PERGILAH !
Entahlah, mengapa
aku merasakan ketertarikan ini padamu.
Terkadang dengan
gamang ku telusuri rasa hati ini tuk sekedar menemukan jawaban mengapa hadirmu
saat ini begitu mengganggu ruang nyaman tanpa cinta yang selama ini kubangun
dan kunikmati. Semua terasa biasa dan tanpa riak-riak sampai pada perjumpaan
singkat setelah pesan-pesan singkat lewat WhatApp bahwa kau ada di kota ini, di
Numbay.
Memang dulu perkenalan
kita juga hanya terjadi lewat media sosial. Di awali dengan saling mengomentari
postingan, kemudian berlanjut saling menanyakan kabar di Inbox Messenger dan
kemudian dilanjutkan dengan saling menukar nomor telpon dan pada akhirnya
berakhir dengan saling mendengarkan suara bahkan memandang lewat Video Call.
Akh..begitu
singkat, namun intens dan membekas.
Perbincangan yang
tadinya dilakukan dengan sopan, mulai bergeser keranah yang lebih intim. Kita
sudah tak segan ataupun malu mengungkapkan rasa ‘nyaman’ yang asing bernama ‘kangen’
yang mulai rajin menemani dikala kenangan akanmu berkelebat didalam benak
menggagalkan dan membuyarkan konsentrasi.
Sudah lama rasa
seperti ini singgah dalam hatiku, dan itu terjadi bertahun-tahun lalu.
Memang awalnya
diskusi panjang kita hanya seputar kondisi Tanah Air kita, banyaknya
pelanggaran HAM yang terjadi dan bagaimana membangun Pergerakan demi Pembebasan
Nasional. Persatuan seperti apa yang harus dibangun, dan dimana letak kelemahan
kita serta siapa sebenarnya lawan dan kawan kita dan sebagainya.
Aku suka pada
pikiran-pikiranmu yang progresif, bahkan semakin dalam diskusi kita aku
menemukan jejak-jejak warna teori-teori Anarkhisme disana.
Pikiran baru yang
segar dan sangat revolusioner dengan pemahaman-pemaham filsafat yang membuatku
suka mendengarkanmu, saling berbagi pemikiran bahkan berdebat tentang berbagai
pemikiran-pemikiran.
Percakapan cerdas,
dan aku suka itu. Entahlah, memang dari dulu aku menyukai lelaki pintar yang
mengutarakan logika dengan santai dan pemikiran dan pemahaman mendalam. Kau
mulai membuatku, tak sabar menanti percakapan-percakapan kita yang berikutnya. Aku
mulai rajin memeriksa pesan masuk atau panggilan telepon hanya untuk
melanjutkan diskusi kita yang tertunda.
Jarak yang jauh
diantara kita membuat penantian itu begitu mendebarkan.
Pada akhirnya,
kebenaran tentang siapa dirimu terkuak perlahan.
Harapan-harapan
yang awalnya membumbung tinggi dan tak menjejak bumi perlahan terhempas turun
dengan hantaman keras.
Saat itu, kau
sedang sibuk menanti kelahiran putramu. Saat menemukan kenyataan itu, memang tak
ada pilihan lain dalam hatiku selain meninggalkanmu.
Terlarang bagiku
membangun kehidupanku diatas luka sesamaku, Perempuan.
Itu tak mungkin,
dan takkan pernah kulakukan.
Cinta pada
kehidupanlah yang menggerakkanmu dan aku menelusuri jalan-jalan terjal berbatu
yang berdebu dan meneriakkan kebenaran-kebenaran sunyi yang sepi dari hingar bingar
ketenaran. Tak boleh jejak-jejak kita dinodai lagi dengan sakit hati dan duka
karena hati yang terluka.
Cukup sudah air
mata untuk kekejaman karena sejarah yang tergelapkan, dan himpitan prahara surga
kita serta kemerdekaan yang terampas, jangan kau tambahi beban duka dengan
segala sakit akibat rasa.
Kenangan ini akan
kukekalkan dalam keabadian disudut hatiku, suatu kenangan indah namun terlarang
bagiku!
-------
Pada akhirnya,
setelah mengetahui kebenaran tentangmu, ku putuskan pergi membawa rasa kagum
dan cinta yang mulai bersemi itu.
Pergi dan menjauh!
Memutuskan segala
komuniaksi kita dan bahkan sama sekali tak ingin tahu tentangmu lagi. Semua berjalan
baik pada akhirnya! Aku berhasil melupakannmu!
Tiba-tiba, 8 bulan
kemudian sebuah pesan masuk dari nomormu membuatku terpana.
“Akh…ternyata aku
tak pernah benar-benar ingin melupakanmu karena nomormu ternyata muncul Kembali
dilayar gawaiku”, batinku dengan rasa resah.
Kau ingin bertemu
denganku dan menanyakan dimana aku berada dikota ini.
Di Numbay.
Laju waktu ternyata
sudah menghapus rasa marah dan jengkel di waktu lalu.
Hari ini, aku
hanya merasakan rindu padamu. Entah mengapa, rasa rindu ini begitu kuat
menyeruak mengalahkan logika yang berusaha merasionalisasi jenis hubungan seperti
apa yang harus dibangun nanti. Beberapa jam sebelum moment perjumpaan tersebut,
aku berusaha menenangkan diriku karena tiba-tiba gemuruh hatiku bertabu riah.
Penasaran ingin
jumpa denganmu.
Sore itu, kita
benar-benar berjumpa sayang.
Kau, aku, dan
waktu mengabadikan pertemuaan tersebut.
Semua yang tadinya
ingin kukatakan, semua sikap yang sudah ku rencanakan akan kutunjukkan padamu
agar ada batasan yang jelas antara kita langsung menghilang dalam pusaran waktu
yang tak bertepi.
Saat mata kita saling
bertaut dan saling mengunci untuk mencari jejak-jejak rasa dihati kita
masing-masing pesan hati kita terbaca jelas. Tak perlu ada kata lagi, sayang! Rahasia
hati kita saling menyibak dan berlomba menyampaikan pesan rindu. Rasa nyaman
yang sudah lama kukubur dan berusaha kutepis akahirnya menerobos kuat dalam
kesadaran dan melumpuhkan logika.
Akh, ternyata
benar aku rindu padamu sayang.
Kesadaran akan
hadirmu begitu kuat. Aku merasa aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku merasa
nyaman denganmu!
Suatu rasa yang
kuat yang sudah lama tak kurasakan.
Kita menghabiskan
senja saling berbagi kisah hidup kita masing-masing namun entah siapa yang
memulai, pada akhirnya bunyi suara yang kita dengar adalah napas kita yang
saling memburu dan bibir yang saling mencari untuk saling memagut dengan rakus.
Kecupan-kecupan yang
panas, dan rengkuhan lengan-lenganmu membuatku begitu menginginkanmu.
Waktu seakan
membeku, sayang.
Hanya tarikan
napas yang saling berkejaran karena hasrat raga yang menggelegak membuat kita benar-benar
hanyut dalam pusaran rasa yang sangat kuat. Hanya keinginan kuat untuk saling
memiliki dan merasakan tiap inci kulitmu yang menyerang dan melumpuhkan logika.
Tubuhku begitu mendamba kecupan bibirmu yang panas ataupun jemarimu yang
bergerak nakal dibalik helai-helai kain yang melekat ditubuhku.
Bau tubuh laki-lakimu
benar-benar melumpuhkan nalarku, malam itu.
Namun, kesadaran
bahwa kau hanya sedang ‘singgah’ dikota ini menyentak kesadaranku.
Akh..sayang, aku
takut dengan rasa yang begitu kuat melandaku malam itu. Apakah memang kita akan
saling mereguk kenikmatan sesaat ini dan kemudian saling meninggalkan esok
hari?
Aku tak ingin
bermain dengan hatiku dan kembali merasakan keperihan saat rasa sakit mengiris
hatiku tak berperasaan saat bayangan liar tentangmu membongkar kenangan indah
yang tersimpan disudut hatiku.
Aku tak ingin
menjadi persinggahan sesaat.
Ya, begitlah kita
menyudahi malam panjang kita hari itu.
Tanpa
lenguhan-lenguhan kenikmatan, dan rasa asin keringat setelah bergulat saling
menuntut nikmat raga kita masing-masing. Sekuat tenaga aku menahan rasa ingin menelanjangimu
dan menelusuri tiap jengkal kulitmu.
Aku harus puas
menelanjangimu dengan tatapan mataku saja.
Maafkan aku
sayang. Saat aku melihat kemarahan dimatamu, yag menuntut jawab aku tahu bahwa
aku berhutang jawaban untukmu.
Hari berganti
wajah, kita sudah tak memikirkan kisah malam itu, namun alam raya kembali menguak
rahasia yang coba kau tutup rapat. Satu bunyi dering telpon menyadarkanmu bahwa
kau harus kembali pulang.
Pulang pada pemilik
hatimu.
Pulang pada
perempuanmu !!
Pergilah, sayang !
Aku masih
mencintaimu, namun cintaku ini tak boleh jadi rantai yang merantaimu.
Cintaku ini cinta
yang membebaskan.
Janji cinta milik kita
itu masih tersimpan rapi, dan akan menunggu waktu untuk mewujud.
Jangan beralasan
bahwa kau sedang melakukan kerja pembebasan saat kita berdua saling mengetahui
bahwa kau sedang berjuang memenangkan hatinya, perempuanmu itu !
Tak perlu ada dusta.
Kebenaran harus menerangi
nurani kita.
Aku masih disini,
menikmati rinai hujan yang melantun menghantar dingin dan bunyi aliran air yang
mengalir tak henti. Aku rindu padamu, Binggaku sayang!
Kau tahu dimana
menemukanku khan?
Pulanglah padaku nanti, jika kau telah lelah berkelana !